INKONTINENSIA ALVI ADALAH PDF

Pengobatan Pengertian Inkontinensia Alvi Inkontinensia alvi dikenal juga dengan nama inkontinensia feses. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan ketidakmampuan seseorang dalam mengontrol BAB buang air besar , sehingga feses atau kotoran keluar secara tidak terduga dari rektum. Inkontinensia alvi dapat berupa keluarnya feses dalam bentuk padat maupun cair. Kondisi ini lebih sering ditemukan pada lansia dan wanita.

Author:Vogami Zuluzahn
Country:Maldives
Language:English (Spanish)
Genre:Finance
Published (Last):8 February 2009
Pages:73
PDF File Size:20.58 Mb
ePub File Size:18.43 Mb
ISBN:447-4-50169-775-3
Downloads:38577
Price:Free* [*Free Regsitration Required]
Uploader:Akinojinn



Beberapa penyebab inkontinensia tinja, antara lain: Diare, yang mengakibatkan tinja lebih berair, sehingga memperburuk inkontinensia tinja. Kerusakan saraf pengendali sfingter anus, yang dapat diakibatkan oleh persalinan, peregangan berlebihan saat buang air, atau cedera saraf tulang belakang. Kerusakan sfingter anus, yaitu cincin otot yang terletak di ujung lubang anus, yang dapat diakibatkan oleh episiotomi atau prosedur pembedahan vagina yang dilakukan setelah persalinan normal.

Keterbatasan ruang pada rektum untuk menampung kotoran, akibat adanya jaringan parut pada dinding rektum, sehingga fleksibilitas rektum berkurang. Kondisi medis yang menyebabkan kerusakan fungsi saraf, seperti diabetes, multiple sclerosis, stroke, demensia, atau penyakit Alzheimer, sehingga menyebabkan inkontinensia tinja. Konstipasi kronis, yang mengakibatkan kotoran mengeras, sehingga sulit bergerak melewati rektum serta menyebabkan kerusakan saraf dan otot. Penggunaan obat pencahar dalam jangka panjang.

Rectal prolapse, yaitu kondisi ketika rektum turun hingga ke anus. Rectocele, yaitu kondisi ketika rektum menonjol ke luar hingga area vagina wanita. Tindakan pembedahan, seperti prosedur bedah pada hemoroid atau kondisi lain yang berkaitan dengan anus atau rektum, berisiko mengakibatkan kerusakan saraf. Beberapa faktor risiko inkontinensia tinja, antara lain: Orang lanjut usia di atas 65 tahun.

Wanita yang menjalani metode kelahiran normal. Diagnosis Inkontinensia Alvi Dokter akan mendiagnosis inkontinensia tinja dengan melakukan wawancara medis, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang, seperti: Kultur tinja, yaitu prosedur pemeriksaan laboratorium melalui sampel tinja, untuk mendeteksi adanya infeksi penyebab diare dan inkontinensia. Barium enema, yaitu pemeriksaan dengan menggunakan foto Rontgen dan cairan barium untuk memeriksa saluran pencernaan bagian bawah.

Elektromiografi EMG , untuk memeriksa fungsi dan koordinasi otot dan saraf di sekitar anus dan rektum. Kolonoskopi, untuk memeriksa seluruh bagian usus menggunakan selang fleksibel berkamera yang dimasukkan melalui anus. MRI, untuk memperoleh gambar detail kondisi sfingter anus dan otot anus. Fraktografi, yaitu pemeriksaan untuk mengukur banyaknya kotoran yang dapat dikeluarkan tubuh dan mengukur kekuatan rektum dalam menahan kotoran agar tidak merembes.

USG anorektal, yaitu pemeriksaan struktur sfingter anus dengan menggunakan instrumen menyerupai tongkat yang dimasukkan ke dalam anus dan rektum. Beberapa upaya pencegahan yang dapat dilakukan, antara lain: Berolahraga secara teratur. Menggunakan pakaian dalam berbahan katun untuk mencegah iritasi. Menghindari mengejan saat buang air besar. Menghindari penyebab diare dengan menjaga kebersihan tangan sebelum dan setelah makan, serta kebersihan makanan yang dikonsumsi.

Mengonsumsi makanan tinggi serat dan memperbanyak minum cairan untuk mengurangi risiko konstipasi. Pengobatan Inkontinensia Alvi Penanganan inkontinensia tinja dapat dengan metode non-operasi dan operasi, yaitu dengan: Pengobatan non-operasi, meliputi konsumsi obat-obatan di bawah pengawasan dokter, perubahan diet, konsumsi banyak air putih, pengaturan rutinitas buang air besar untuk melatih usus, dan sebagainya. Operasi atau prosedur invasif minimal, yang akan dilakukan jika inkontinensia tidak dapat diobati dengan metode non-operasi.

Beberapa komplikasi yang dapat diakibatkan oleh inkontinensia tinja, antara lain: Gangguan emosional, akibat rasa malu, frustrasi, dan depresi. Iritasi serta infeksi kulit, akibat kontak berulang dengan tinja. Kapan Harus ke Dokter?

Jika mengalami beberapa gejala yang telah disebutkan sebelumnya secara terus-menerus dan tidak kunjung membaik, segera periksakan diri ke dokter spesialis penyakit dalam untuk menjalani pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut.

Untuk melakukan pemeriksaan, kamu bisa langsung membuat janji dengan dokter di rumah sakit sesuai domisilimu di sini.

269 AMAZING SEX TIPS AND TRICKS FOR HIM PDF

Inkontinensia

Inkontinensia alvi adalah suatu kondisi di mana penderitanya tidak dapat mengontrol keinginan untuk buang air besar. Normalnya, keinginan BAB bisa ditahan hingga beberapa waktu. Ketika makan, kita menghasilkan kombinasi makanan yang tidak tercerna, bakteri, dan sel-sel mati dalam bentuk padat. Kombinasi ini disebut feses. Feses kemudian bergerak melalui usus ke rektum dan keluar di anus. Seluruh proses ini dikenal sebagai buang air besar. Inkontinensia terjadi ketika ada sesuatu yang salah dalam proses kendali usus.

THE FUNCTION OF EDUCATION BY JIDDU KRISHNAMURTI PDF

Inkontinensia Alvi

Jika defek sfingter ani interna diidentifikasi, maka imbrikasi terpisah dari sfingter ani interna juga dilakukan. Tindakan Bedah Pembedahan harus dipertimbangkan pada penderita-penderita tertentu yang inkontinenzia ditangani dengan upaya-upaya konservatif atau terapi biofeedback. We share information about your activities on the site with our partners and Google partners: Pada manajemen lansia atau penderita-penderita yang dirawat dengan inkontinensia fekal, ketersediaan tenaga yang berpengalaman pada terapi inkontinensia fekal, pengenalan yang tepat waktu untuk defekasi, dan pembersihan segera kulit perianal merupakan hal yang 11 penting. Apa pengertian inkontinensia alvi? Anatomi Anal Kanal dan Rektum 8 Gambar 1. Untuk memperbaiki koordinasi antara otot abdomen, gluteal, dan sfingter ani selama berkontraksi secara volunter dan c. Merangsang peristaltik usus, sehingga peristaltik usus 4.

Related Articles